Mengukur Semangat Milenial di Era Teknologi dalam Menjiwai Nilai-Nilai Pancasila

Home / Kopi TIMES / Mengukur Semangat Milenial di Era Teknologi dalam Menjiwai Nilai-Nilai Pancasila
Mengukur Semangat Milenial di Era Teknologi dalam Menjiwai Nilai-Nilai Pancasila Asra Bulla Junga Jara Mahasiswa di Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang

TIMESTULUNGAGUNG, MALANGSETIAP gelombang peradaban akan berpengaruh besar pada struktur maupun tatanan masyarakat, termasuk tatanan politik semakin global. Hari ini kita menyaksikan dunia semakin mengglobal bahkan dunia dan informasi di dalamnya dapat kita akses melalui gadget di tangan kita. Teknologi juga telah menyeimbangkan informasi antarkomunal dalam masyarakat. Era sebelumnya dikenal dengan asymmetric information karena informasi hanya bisa diakses kalangan tertentu.

Namun, di era borderless media dengan teknologi seperti sekarang, semua info dapat dengan mudah tersebar. Semua orang bisa mengakses informasi dan media informasi (termasuk media sosial) saat ini berperan penting sebagai to lead public perception. Demikian pula dengan apa yang kita lihat pada fenomena kepemimpinan politik global. Sebagian menemukan penjelasannya juga pada kemampuan mereka mengkapitalisasi keterbukaan informasi demi mendukung posisi politik mereka. 

Globalisasi merupakan perkembangan zaman. Revolusi dari zaman ke zaman hingga ke peradaban manusia seperti sekarang ini adalah salah satu yang berhasil mengembangkan ilmu yang mengubah dunia. Tahapan demi tahapan teknologi terlewati menuju teknologi modern atau yang sering kita kenal dengan teknologi digital. Thomas L. Friedmen membagikan globalisasi ke dalam tiga tahapan, yaitu globalisasi yang menggunakan teknologi tenaga kuda, tenaga uap, tenaga angin, dan tenaga udara. Tahapan ini disebut tahapan Globalisasi 1.0. 

Selanjutnya tahapan kedua menggunakan teknologi mesin. Karena pada masa ini atau menang pada abad ke-18 lahir Revolusi Industri dan dinamakan dengan Revolusi 2.0. Pada masa itu perusahaan menjadi penggerak utama untuk mengubah yang manual menjadi mekanik.

Kemudian masuklah ke tahap awal atau Globalisasi 3.0 yang mana kehidupan manusia diwarnai dengan menggunakan teknologi digital. Pada masa ini dunia terasa menjadi kecil. Yang jauh menjadi dekat, yang tersembunyi menjadi nampak. Bisa berkomunikasi dari berbagai arah tanpa penghalang ruang dan waktu. Sudah ada globalisasi sekarang sudah ke era 4.0 yang mana semua peradaban manusia sudah dikuasai oleh dunia maya atau dikenal dengan nama internet hal.

Steve Jobs pernah mengatakan bahwa akan terjadi masa depan di mana komputer akan menjadi alat komunikasi yang baru, dan komputer menjadi stasiun di mana pengguna mencurahkan semua isi pikiran dan perasaannya. Maka kita dapat menemukan orang yang dapat melakukan apa saja dengan menanyai komputer yang ia menggunakan semasa menghabiskan waktunya.

Zaman akan berubah seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan menciptakan evolusi manusia menciptakan sesuatu di luar nalar yang mematahkan teori-teori klasik. Tidak ada lagi batasan di Bumi ini untuk berkomunikasi, berjumpa, mencari informasi bahkan berbisnis pun sudah dijembatani oleh media yang kita sebut digital. Zaman digital adalah zaman yang memberi kemudahan bagi manusia. Seolah tidak ada lagi hubungan bagi manusia dalam melakukan setiap aktivitas. Media digital dapat diperoleh di dalam komputer, ponsel pintar, dan teknologi lainnya yang dibuat oleh manusia untuk memuaskan keinginannnya. Setiap sendi kehidupannya selalu ditemani oleh benda tak bernyawa dari yang dibutuhkan tangan sampai biji-biji bayam.

Lalu, apa pengaruhnya bagi generasi milenial dalam menjiwai nilai-nilai Pancasila?

Secara sosial budaya digital telah menghilangkan budaya jabat tangan, telah mengikis budaya sapaan. Dengan demikian, lambat laun sosialisasi fisik akan hilang dan manusia lebih bersifat individualisme. Hal yang demikian sering kita jumpai di sekeliling kita. Banyak kita temui orang yang hanya menyibukkan jari-jemarinya dengan gadget tanpa menghiraukan keadaan sekitar.

Pengaruh selanjutnya yang sering kita dapati adalah media penyebar konten negatif dan fitnah. Media digital yang serba instan dan cepat dapat membawa informasi yang dikirim hitungan detik berlalu begitu saja di mata publik.

Di era globalisasi ini peran Pancasila tentulah sangat penting untuk tetap mempertahankan eksistensi kepercayaan bangsa Indonesia. Karena dengan adanya globalisasi, maka perbedaan antara negara seakan tak terlihat sehingga memudahkan semua masyarakat.

Hal ini dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi bangsa Indonesia. Jika kita dapat memfokuskan dengan baik berbagai hal yang timbul dari globalisasi, maka globalisasi akan menjadi hal yang positif karena dapat menambah wawasan dan mempererat hubungan antarbangsa dan negara di dunia. Demikian hal negatif dari pengaruh globalisasi dapat merusak moral bangsa dan eksistensi budaya Indonesia. 

Pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup berbangsa dan bernegara merupakan kekuatan yang menyatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke dengan berbagai latar belakang suku dan budaya, ras, dan agama yang berbeda-beda. Pancasila digali atas dasar kekayaan budaya, religius, dan moral masyarakat bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tentu saja disetujui dan memiliki keutamaan untuk diberikan seluruh aspek kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Masyarakat bangsa Indonesia harus berbangga dan bersyukur dengan Pancasila yang dapat mempersatukan kita.

Pancasila menjadi modal dasar dan sumber kecerdasan dalam membangun peradaban pembangunan Indonesia yang adil dan beradab. Pancasila harus direfleksikan dan diterapkan oleh semua masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Pancasila dapat dimodernisasi tentu saja dapat membawa Indonesia menuju cita-cita kemerdekaan yang telah ditanamkan di setiap benak anak bangsa.

Seluruh masyarakat Indonesia bertanggung jawab penuh dalam melestarikan Pancasila serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dari kecenderungan pengaruh radikalisme dan sikap intoleran yang memecah belakan persatuan dan hubungan bangsa Indonesia.

Semua elemen bangsa apapun itu suku, agama, etnis wajib mendukung dan berjuang bersuara menegakan Pancasila. Sekarang ini generasi muda Indonesia telah meninggalkan nilai-nilai kebangsaan. Hal itu dapat dibuktikan dengan julah genersai muda yang saat ini telah berperilaku tidak sesuai dengan butir-butir Pancasila. Sekarang ini banyak genersi muda yang tidak bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ada juga perilaku generasi muda yang tidak sesuai dengan sila kedua sebagai jati diri bangsa Indonesia. Dengan berlandaskan Pancasila diharapkan bisa menjadi budaya yang berbeda, bisa menjadi generasi yang benar-benar mencintai tanah airnya.

Masa muda yang diperlukan dalam pencarian jati diri di samping masa depan yang penuh problematika juga masa-masa remaja yang paling indah dan penuh kenang-kenangan yang tak terlupakan. Masa yang akan datang perlu bantuan dari masa lalu, baik dari orang tua atau orang yang lebih dewasa dari kita. Pada masa ini memang tergantung dalam kondisi yang tidak stabil, senantiasa berubah.

Mengukur segala sesuatu dengan ukurannya sendiri, kadang-kadang dalam mengambil keputusan tidak logis dan pada umumnya memiliki ego untuk berontak. Menurut seorang tokoh psikologi remaja yaitu James E.Gardner, masa remaja adalah masa yang penting, mereka merupakan masa depan yang sangat mendadak dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, mereka harus dipertimbangkan sebagai tahun-tahun yang kritis. (*)

* Penulis Asra Bulla Junga Jara adalah Mahasiswa Semester Delapan (8), di Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang, Jurusan Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Jurnalistik.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com