Pembatalan Haji Bukan Pertama Kali

Home / Berita / Pembatalan Haji Bukan Pertama Kali
Pembatalan Haji Bukan Pertama Kali Ilustrasi ibadah haji. (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESTULUNGAGUNG, JAKARTA – Pemerintah Republik Indonesia secara resmi telah membatalkan pemberangkatan haji tahun 2020, sebagai upaya untuk mencegah sebaran dari pademi Covid-19. Pembatalan ini ternyata tidak pertama kali dilakukan, sebab Pemerintah Arab Saudi dalam sejarah juga sempat melakukan pembatalan haji.

Setiap tahunnya, ada lebih dari dua juta orang yang melakukan ibadah haji di Makkah, dan opsi meniadakan salah satu rukun Islam ini merupakan hal yang tidak diinginkan banyak orang. Terutama jemaah yang sudah siap melengkapi fondasi keagamaannya..

Menurut informasi dari Yayasan Penelitian dan Arsip Raja Saudi Abdulaziz, pembatalan haji pernah dilakukan beberapa kali. Pembatalan mulai dari wabah penyakit, konflik, penjahat dan perampok, hingga karena jumlah jamaah haji sangat rendah.

Informasi dari yang dikutip dari The New Arab, pembatalan haji yang paling terkenal terjadi pada abad ke-10 Masehi. Terkait dengan sebuah sekte heterodoks yang berbasis di Arab Timur bernama Qaramithah atau Qarmati.

Menurut catatan sejarah, orang-orang Qarmati datang ke Kabah, membunuh 30.000 jamaah dan mencuri bongkahan hajar aswad. Akibatnya, ibadah haji dibatalkan selama sepuluh tahun setelah peristiwa tersebut.

Ini bukan serangan kekerasan pertama yang terjadi pada jemaah haji. Sebab, pada tahun 865 M, Ismail bin Yousef yang dikenal sebagai Al-Safak, memimpin pemberontakan melawan kekhalifahan Abbasiyah, membantai para jamaah yang berkumpul di Gunung Arafat dekat Makkah dan memaksa pembatalan ibadah haji.

Pada 1000 M, haji dibatalkan karena alasan yang jauh lebih sederhana, karena meningkatnya biaya perjalanan untuk melakukan ibadah haji. Sedangkan pada tahun 1831, menurut Pusat Raja Abdulaziz, wabah dari India menewaskan hampir tiga perempat jemaah haji.

Kemudian, antara tahun 1837 dan 1892, haji dibatalkan karena adanya infeksi menewaskan ratusan peziarah setiap hari.

Sebelum memasuki zaman modern, infeksi sering menyebar selama haji akibat tidak adanya perawatan yang memadai untuk beberapa penyakit mematikan. Ribuan jemaah yang berkumpul di sana juga menjadi persoalan jika muncul sebuah wabah.

Memasuki zaman modern saat ini, Pandemi Covid-19 telah mengganggu perhelatan ibadah haji tahun ini. Berdasarkan Worldometer, saat ini Saudi mencatat ada 1.563 kasus positif corona. Pasien meninggal secara akumulatif sebanyak 10 orang dan pasien sembuh 165 orang.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pemerintah membatalkan pemberangkatan haji tahun ini, karena sampai bulan Juni, belum ada kejelasan dari pihak penyelenggara haji, dalam hal ini pemerintah Arab Saudi hingga akhir bulan April.

Karena tak kunjung ada kepastian. Kemenag RI memilih mengundur pengumuman sampai batas waktu 20 Mei. Namun sampai batas itu, pemerintah Saudi belum juga memberi kabar. Sampai-sampai Presiden RI Jokowi menelepon Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud untuk meminta kepastian. Namun belum juga ada kepastian.

Akibat pembatalan haji 2020 ini, maka 188.375 calon jemaah dari 221 ribu kouta haji pada tahun ini harus bersabar setidaknya sampai musim haji 2021 sambil menunggu keputusan pemerintah. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com